lapor-diri

Pada tanggal 10 September 2016, mahasiswa Indonesia baru di kota Eindhoven melakukan kegiatan lapor diri. Lapor diri pada Perwakilan RI setempat sangat besar manfaatnya. Tentunya sangat diharapkan agar setiap WNI yang berada di luar negeri menjaga dirinya masing-masing. Namun, apabila terjadi hal yang tidak diharapkan pada diri seorang WNI, maka tentunya akan jauh lebih mudah bagi Perwakilan RI (dalam hal ini Bagian Konsuler) setempat untuk membantunya jika WNI tersebut sudah mendaftarkan/melaporkan data dirinya di Perwakilan RI. Selain itu, Lapor Diri juga akan memudahkan jaringan antar mahasiswa bila diperlukan nanti.

Pada acara Lapor Diri tahun ini, PPI Eindhoven kedatangan tamu dari KBRI sebagai pengurus beserta duta besarnya dan mantan menteri luar negeri RI. Pada kesempatan ini, selain acara Lapor Diri, juga diadakan seminar dan dialog singkat bersama Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja, Duta Besar LB & BP RI untuk Kerajaan Belanda dan Bapak Hassan Wirajuda, mantan menteri luar negeri RI.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Den Haag, Bapak Bambang Hari Wibisono. Acara ini berlangsung dengan bincang-bincang santai bersama Atase Imigrasi, Bapak Erwyn Franz Ramis Wantania, dan Fungsi Protokol dan Konsuler, Bapak Juni Kuncoro Hadinigrat, mengenai peranan KBRI berkaitan dengan lapor diri. Dalam bincang-bincang ini juga terdapat sesi tanya jawab yang membahas hak dan kewajiban WNI di Belanda.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan seminar singkat dari Pak Hassan mengenai Indonesia dan prospeknya ke depan. Sebagai mahasiswa yang melanjutkan pendidikan di luar negeri, tentu ada harapan dapat memandang Indonesia dari perspektif yang berbeda. Pak Hassan menambahkan, 20 tahun lagi, Indonesia sudah akan berumur 1 abad terhitung sejak kemerdekaan 1945. Itu juga mengindikasikan siapnya negara untuk bertumbuh.

Beliau juga menambahkan ada pakar ekonomi yang memproyeksikan bahwa GDP (Gross Domestic Product) negara Indonesia dapat naik ke peringkat 6 dunia. Proyeksi ini didukung dengan kestabilan ekonomi Indonesia melewati beberapa periode krisis ekonomi sejak 1998 jika dibandingkan dengan negara Eropa dengan GDP yang jauh lebih besar seperti Yunani.

Pada seminarnya, beliau juga memotivasi mahasiswa untuk dapat melihat Indonesia dengan pandangan yang berbeda. Terdapat potensi besar yang menunggu untuk dieksplorasi. Indonesia memiliki 250 juta jiwa tetapi ada beberapa faktor seperti kendala bahasa yang dapat membatasi ruang gerak pada Free Trade Agreement. Beliau menyemangati bahwa masih ada banyak peluang beasiswa ke luar negeri oleh pemerintah yang belum dimanfaatkan karena kendala komunikasi dan bahasa.

Sebagai penutup, Pak Hassan tetap mengingatkan mahasiswa Indonesia untuk kembali dan membangun tanah air. Ilmu-ilmu yang didapat di luar negeri dapat digunakan untuk membangun negeri. Indonesia masih memiliki potensi yang sangat besar dan menunggu untuk dieksplorasi.

Ditulis oleh: Andreas Jakayudha