aditya halim sosok mei

Aditya Halim (25), seorang putra Indonesia, menginspirasi mahasiswa-mahasiswa di Eindhoven khususnya untuk tetap melanjutkan pendidikan. Ia percaya, bahwa pendidikan merupakan kesempatan yang penting untuk diambil. Semangat itu diwujudkan melalui proses pendidikan magisternya yang dilakukan sembari bekerja.

Tahun 2012 Adit, panggilan akrab Aditya Halim, lulus sebagai sarjana teknik elektronika dari sebuah hogeschool di Eindhoven. Tetapi, keinginan menempuh pendidikan pasca-sarjana mendorongnya untuk melanjutkan pendidikannya di sebuah universiteit.

“Sebenarnya setelah lulus dan bekerja saja sudah cukup. Kerja di sini enak, ada batasan antara kebebasan dan kesempatan belajar dari kolega-kolega. Perusahaan tempat saya bekerja juga sudah termasuk lumayan. “ kata Adit bulan Mei lalu.

Bagi dia, kesempatan tidak datang setiap saat. Dimulai saat internship di NXP, ia mulai menyatakan ketertarikannya dengan perusahaan itu. “Jika bekerja di sini, jangan ragu-ragu untuk menyatakan kalau kamu tertarik dengan pekerjaanmu. Orang-orang di sini sangat mengapresiasi dan akan berusaha mendukung, kok.”

Berawal dari internshipnya, kini, Adit kini mendapat pekerjaan di perusahaan yang sama. Ia mengajukan ketertarikannya untuk menempuh pendidikan pasca-sarjana kepada atasannya untuk meningkatkan pengalamannya dalam bekerja. Alhasil, ia mendapat sponsor dari tempat kerjanya untuk melanjutkan master di TU/e secara gratis.

Menantang diri sendiri

Kuliah sekaligus bekerja memiliki keasyikan tersendiri bagi Adit. Contohnya, di waktu istirahat kerja atau saat pekerjaan sedang sedikit, ada pelajaran kuliah menanti dipelajari. “Ya, punya kesibukan saja, saat senggang bisa belajar materi kuliah” katanya.

Ketika sudah mendapat sponsor dari perusahaan, ada tantangan tersendiri untuk tetap bekerja sekaligus berfokus pada pelajaran kuliah. Mengambil kelas sehari sepekan, tentu banyak materi yang juga harus dipelajari sendiri. Ia menganjurkan bagi teman-teman yang juga ingin mengambil master selagi bekerja untuk memperbanyak self-study karena tidak semua materi diajarkan di kelas. Disini, mahasiswa diharapkan untuk mengetahui kapasitas dirinya masing-masing dan memiliki kesadaran akan perlunya belajar.

Memilih Belanda

Seperti mahasiswa Fontys pada umumnya, Adit juga berasal dari agen yang sama. Memang sejak lama sudah direncanakan ingin kuliah ke luar negeri. Biasanya, Belanda tidak jadi tujuan utama kuliah yang umum. Kebanyakan akan menyebut Britania Raya, Singapura, Australia, ataupun Malaysia.

Harga dan kesempatan waktu itu membuat Adit menjatuhkan pilihannya pada Electrical Engineering di Fontys Eindhoven. Dengan pertimbangan regio Eindhoven juga merupakan daerah industri. Menurutnya, jika kuliah teknik di kota-kota lain, kota utama yang menjadi lahan pekerjaan bagi para teknisi, ya Eindhoven.

Menjadi mahasiswa Belanda juga membuka kesempatan untuknya menjelajahi daerah Schengen Convention Area. Ini juga akhirnya menjadi salah satu hobi Adit, jalan-jalan. Saat musim dingin tiba, merupakan hari bermain ski yang asyik di Italia. Mungkin nanti yang suka main ski di Italia bisa pergi bersama-sama. Di musim panas, Adit memilih berkebun dengan lahan seadanya yang bisa dimanfaatkan di halaman rumah.

Pesan dan pandangan

Menjadi pekerja di sini perlu pintar-pintar. Tidak hanya bekerja, tetapi juga dalam pergaulan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Memilih perusahaan magang, tidak kalah pentingnya dengan memilih pekerjaan, atau minimal memiliki kesempatan untuk bekerja di sana setelah lulus. Pilihan Adit pada perusahaan ini juga menimbang statistik perolehan kesempatan menjadi karyawan tetap cukup besar.

Menunjukkan yang terbaik juga merupakan kunci sukses menurut Adit. Hal ini ia tunjukkan terutama bagi lulusan Fontys. “Karena Fontys berbasis applied sciences seharusnya kita lebih terampil mengerjakan hal-hal praktis dan tunjukkan yang terbaik yang kamu bisa lakukan”. Melakukan yang terbaik juga memperbesar kemungkinan perusahaan bersedia menjadi sponsor pendidikan magister.

Jangan segan untuk menyatakan ketertarikan. Ada beberapa sifat malu-malu yang kadang dijumpai pada orang Indonesia khususnya. Bermaksud untuk membangun, Adit secara pribadi menyemangati pembaca untuk tidak ragu menyatakan ketertarikan terhadap pekerjaan ataupun perusahaan tempat pembaca melakukan internship.

Power distance yang kecil antara atasan dan bawahan membuat bekerja di Belanda memiliki ciri khas tersendiri. Adit menyarankan untuk memiliki karakter yang kuat dan lebih berani menyatakan pendapat. Memiliki pendapat sendiri dalam sebuah persoalan juga merupakan hal yang penting.

Terakhir, ketika ingin dihormati pendapatnya, hargailah juga pendapat orang lain. Di samping trik berkolega, Adit juga menekankan pentingnya belajar bahasa Belanda. Hal ini akan sangat mempermudah tidak hanya komunikasi, tetapi, orang lokal pun akan merasa dihargai keberadaannya. Karena bagaimanapun, kita tinggal di negara yang penduduknya mayoritas berbahasa Belanda. (AJ)

Ditulis oleh: Andreas Jakayudha