brian

Brian Hutama (28) seorang Indonesia menginspirasi mahasiswa yang masih berada di jenjang S1 untuk tetap mengejar mimpi untuk memperoleh gelar magisternya. Meskipun sampai dan menempuh kuliah magister di universitas yang sekarang umum untuk diisi oleh mahasiswa pasca-sarjana dari Indonesia dengan jalur beasiswa, Brian mampu untuk tetap melanjutkan studi magisternya meskipun tanpa beasiswa.

Mahasiswa lulusan Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung ini pernah bekerja di PT Samsung Electronics Indonesia selama kurang lebih dua tahun. Setelah beberapa tahun bekerja sebagai insinyur di bidang riset dan pengembangan produk pemutar piringan Blu-ray, Brian memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di jenjang magister. Banyak pilihan tersedia pada saat itu, dan pilihannya jatuh pada Eindhoven University of Technology (TU/e) di Eindhoven, Belanda. Saat ia mencoba mencari pendanaan untuk kuliah di TU/e, beasiswa LPDP belum ada, sementara beasiswa Stuned saat itu mempersyaratkan pengalaman kerja selama minimal 3 tahun di perusahaan non-multinasional.

Belum berhasilnya Brian memperoleh beasiswa dari lembaga penyedia beasiswa bagi calon mahasiswa yang ingin berkuliah di luar negeri lantas tidak membuat ia menyerah begitu saja. Ia juga sadar bahwa beasiswa bukanlah jalan satu-satunya. Masih ada jalan lain untuk dapat menempuh pendidikan magister. Setelah mendapatkan surat penerimaan pada program magister Teknik Elektro di TU/e, Brian juga mendapatkan penawaran untuk program pendanaan dengan konsep pinjaman (loan) juga memiliki program-program yang dapat membantu pembiayaan sekolah. Dengan adanya bantuan pendanaan ini, total biaya selama kuliah menjadi lebih ringan. Dalam konsep pendanaan ini, TU/e juga membantu Brian untuk berkarir di perusahaan di Belanda untuk pelunasan pinjaman dana selama kegiatan perkuliahan. Pada akhirnya, dengan konsep ini, ia menggunakan pendapatan masa depannya untuk menempuh pendidikan tinggi.

Pendidikan magister berjalan sesuai waktu yang dialokasikan dan Brian pun lulus pada tahun 2014, dengan proyek kelulusan Reinforcement Learning for Energy Fairness in Wireless Sensor Network Routing Optimization dan akhirnya pertama kali bekerja di perusahaan NXP Semiconductors. Memiliki pengalaman kerja di dua negara dengan karakteristik sangat berbeda tentu menjadi pengalaman baru bagi Brian.

Di Indonesia tempatnya dahulu bekerja, pekerjaan lebih difokuskan kepada bagaimana sebuah barang dapat diproduksi dengan efisien. Di sini, riset dan pengembangan tidak difokuskan untuk membangun produk dari awal, namun lebih ditujukan untuk mengadopsi desain yang sudah dirancang sebelumnya ke proses produksi di Indonesia. Riset produk biasanya dilakukan di negara asalnya atau yang dianggap memiliki ilmuwan yang lebih mumpuni seperti Korea Selatan. Di perusahaan di Indonesia ini, Brian merasa ini tidaklah cukup untuk memenuhi rasa penasarannya di bidang riset dan pengembangan.

Setelah lulus dari TU/e dan mulai bekerja di sebuah perusahaan yang membuat sebuah solusi evaluasi otomatis untuk chip semikonduktor yang jarang dibuat oleh perusahaan pada umunya, Brian kini mulai merasa bahwa ada yang berbeda dibandingkan ketika dirinya bekerja di Indonesia. Di sini, pekerjaannya lebih difokuskan pada sisi riset dan pengembangan produk itu sendiri, bukan semata-mata untuk mengadopsi desain ke tahap fabrikasi untuk target produksi massal.

Kepada para mahasiswa yang ingin melanjutkan ke jenjang magister, Brian berpesan agar tetap berpendirian pada cita-cita. Meskipun situasi nampaknya kurang mendukung, seperti tidak adanya beasiswa dari lembaga yang diincar sejak dulu, karena lain dan satu hal, masih banyak cara dan kesempatan lain yang mungkin terlewatkan yang masih bisa diraih untuk melangkah lebih jauh guna cita-cita.[AJ]