Selamat jumpa kembali, pembaca!

Di bulan Juli ini, setelah pekan ujian berlalu, tim penulis kolom sosok ingin membagikan hal yang tak kalah spesialnya dengan liburan. Kali ini, kolom sosok akan menguak cerita ketua PPI Eindhoven, Husni. Di tengah kesibukannya membagi waktu antara keluarga, pendidikan, dan karier, pria ini juga masih sempat untuk berpartisipasi sebagai ketua perhimpunan pelajar, loh. Penasaran? Yuk, kita simak bersama!

Nama lengkap : Muhammad Husni Mubarok

Tanggal Lahir: 22-02-1992

Almamater : S1 Teknik Elektro ITB

husni

Q : Ceritain tentang S1-nya dong, kak?

Saya memulai perkuliahan sarjana pada tahun 2009. Pada waktu itu saya diterima masuk STEI ITB lalu terjerembap masuk ke jurusan teknik elektro ITB. Sewaktu kuliah saya yakin tidak banyak yang mengenal saya karena memang saya tidak aktif berorganisasi ataupun berprestasi di bidang akademik. Kegiatan saya sehari-harinya duduk-duduk, bercanda, sambil minum kopi dan main kartu di himpunan, ditambah jualan-jualan gitu lah untuk menyambung hidup. Ini sebenarnya kegiatan yang paling sering saya lakukan setiap harinya, mungkin malah lebih sering dibandingkan masuk kuliah.

Organisasi? Hampir nol, ya saya terdaftar sebagai anggota himpunan, tapi hampir tidak pernah saya mengikuti kepanitiaan baik di level himpunan atau pun kampus, hanya sesekali saja. Akademik? Waduh saya termasuk yang lulus lima tahun di ITB, dan orang-orang bilang lulus telat, dan nilai pas-pasan banget, jadi memang tidak ada yang spesial sih di masa S1 saya. Ah mungkin yang paling berkesan satu hal, waktu kuliah saya ikut satu tim mobil listrik bernama cakrawala, ikutan lomba sekali di ITS, IEMC 2013, dan jadi runner-up (tapi gagal ikut Shell Eco Marathon di Filipina waktu itu, curiga gara-gara saya bawa sial). Itulah sedikit cerita tentang S1 saya, nggak ada yang spesial atau inspiratif tampaknya hahaha.

Q : Apakah kakak bekerja sebelum meneruskan ke S2?

Ya, setelah lulus saya sempat bekerja di 2 tempat yang berbeda. Saya bekerja terlebih dahulu, alasannya sederhana, karena memang waktu itu belum mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi, tetapi prioritas saya memang ingin melanjutkan studi (karena s1 saya kacau). Oleh karena itu, sembari kerja saya tetap cari-cari beasiswa sampai akhirnya mendapat rezekinya juga.

Q : Mengapa memilih TU/e?

Nah ini lagi-lagi, jawaban saya kayanya bakal menunjukkan saya orang yang simple banget. Pertama saya memang ingin melanjutkan studi di negara (Eropa) yang menawarkan program Bahasa Inggris, dan Belanda pilihan yang tepat banget, karena di Belanda program masternya diadakan dalam Bahasa inggris. Ditambah lagi dari hasil googling-googling ternyata rata-rata orang di belanda pun mengerti Bahasa Inggris, alhasil saya pilihlah Belanda.

Lalu karena sebelum saya berangkat telah ada beberapa teman saya yang sedang melanjutkan kuliah di TU/e, saya mendapatkan banyak informasi tentang TU/e dan karena ada program yang memang jadi interest saya (Sustainable Energy) akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di TU/e. Selain itu spesialisasi di bawah departemen Innovation Science juga menarik minat saya dan spesialisasi ini, untuk program Sustainable Energy, merupakan salah satu program pasca-sarjana unggulan yang ada di TU/e. Ditambah lagi, saat saya hendak mencari universitas waktu itu, TU/e tidak menarik biaya aplikasi, saat kampus sebelah sebut saja TU Delft, menarik biaya aplikasi. Berhubung keuangan lagi tidak sehat saya memutuskan daftar TU/e saja akhirnya.

Q : Kesibukannya sekarang apa nih, kak?

Kalau di perkuliahan, saat ini saya sedang sibuk melakukan internship. Alhamdulillah saya selamat dari jeratan course karena sudah habis semua jumlah credit course minimal yang harus saya ambil. Di samping perkuliahan kegiatan lain yang saya ikuti adalah sebagai panitia konferensi yang akan diadakan oleh PPI Belanda pada September 2016, ICAD. Dan pada Februari 2016, diberikan amanah pula untuk menjadi ketua PPI Eindhoven periode 2016-2017. Jika dibilang sibuk, ya sebenarnya tidak begitu sibuk, karena di kepanitiaan dan organisasi toh kan banyak teman-teman lain yang membantu.

Q : Wah keren ya, bagaimana ya cara membagi waktunya?

Nah untuk pembagian waktu ini memang yang sangat penting sekali. Pertama saya selalu menyempatkan untuk main atau beristirahat (tidak melakukan apa-apa) saat akhir pekan, atau setidaknya hari minggu, sehingga setidaknya ada satu hari saya malas-malasan. Tujuannya ya agar saya punya banyak energi di minggu yang akan datang. Untuk membagi waktu kuliah, belajar ,dan organisasi/kepanitiaan, saya sudah membuat semacam timeline sederhana dari semenjak saya mengikuti ICAD, sampai diberi amanah menjadi ketua PPI/E, saya menyiapkan selot-selot waktu di mana saya bisa mengerjakan kedua hal ini tanpa mengganggu kuliah. Tentu saja pada praktisnya ada beberapa kendala, tapi overall perencanaan sederhana saya cukup membantu saya sehingga saya dapat membagi waktu kuliah dan hal lainnya. Buktinya kuliah saya bisa dibilang lumayan kok dan baru terjerembap satu kali harus mengulang ujian (maaf ya sombong).

Q : Ada pesan-pesan nggak buat pembaca terutama mahasiswa di Eindhoven?

Pertama, teman-teman yang ada di Eindhoven jangan lupa untuk bergabung dan mendukung semua kegiatan PPI/E. Saya juga berpesan kepada teman-teman untuk tidak hanya belajar dan diam di perpustakaan berkutat dengan tugas dan rutinitas perkuliahan, tetapi banyak sekali kesempatan seperti berorganisasi, mengikuti konferensi, mengikuti lomba, dan hal lainnya. Kegiatan-kegiatan seperti ini saya jamin, saya garansi kan kepada teman-teman, akan memberikan manfaat yang sangat banyak contohnya saja dapat membuka jaringan, menambah wawasan, dan dapat juga meningkatkan rasa kepercayaan diri. Jangan lupa pula menyeimbangkan kegiatan-kegiatan tersebut dengan main, karena pada fitrahnya memang manusia itu ingin bahagia dan main sering kali membuat kita bahagia.

Terakhir, saya ingin mengutip salah satu kalimat dari teman saya, sebut saja Hakim Agung Ramadhan, “yuk kita bangun bangsa bareng-bareng”, karena memang kesempatan yang kita dapat dengan berkuliah di negara yang saat ini lebih maju dibandingkan negara kita tentu saja harus dapat memberikan manfaat bagi negara kita di masa depan. Hidup terlalu mudah dan kurang seru apabila teman-teman hanya memikirkan perut teman-teman sendiri.

[ANJ]